Sabtu, 17 Desember 2011

si rambut api

Kharisma Gus Maksum masih dirasakan oleh banyak orang, terutama warga Kediri, Jawa Timur, terkhusus aggota perguruan Pagar Nusa. Meski almarhum sudah pergi menghadapIlahi tiga tahun silam, namun tak membuat para santrinya merasa kehilangan panutan. Kini Kyai yang dikenal punya banyak ilmu kejadugan (kanoragan, Red) itu terasa hadir dalam banyak kerumunan orang yang sengaja datang untuk memperingati acara haul ketiganya.
Pagi itu suasana pondok pesantren Salafiyah Lirboyo Kediri-salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia-ramai dengan orang yang mondar mandir sambil menenteng karpet panjang. Karpet itu dibentangkan di halaman pondok pesantren. Sebagian lainnya, sibuk mendirikan terop besar yang dipasang di depan rumah almarhum K.H. Maksum, dilengkapi dengan panggung bertuliskan “peringatan maulid dan haul ke 3 K.H. Maksum Lirboyo Kediri”. Sesaat kemudian pondok pesantren Lirboyo didatangi ribuan orang dengan memakai kopiah dan sarung, layaknya santri. Kemudian mereka memadati halaman pondok pesantren, seraya duduk bersila dikarpet yang sudah disediakan. Orang-orang ini sengaja hadir dari berbagai penjuru nusantara seperti Sumatra, Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur sendiri, untuk memperingati haul ketiga K.H. Maksum. Menurut Imam Syamsuddin sekretaris Pagar Nusa kota Kediri mengatakan, undangan yang hadir pada acara haul Gus Maksum panggilan akrab K.H. Maksum diperkirakan kurang lebih 10.000 orang, dan haul ini adalah yang terbesar dibandingkan haul sebelumnya.Dalam haul kali ini, juga hadir sejumlah paranormal kondang asal ibu kota yang juga pernah menjadi santri Gus Maksum. Di antaranya, Ustad Aziz Hidayatullah (pimpinan pondok pesantren Busatanul Hidayah Tegal Jawa Tengah), Gus Ulin Nuha Azka (Pimpinan Dzikir Sunan Kalijaga Demak), Ki Cokro (Spiritualis asal Jombang), Habib Munzir bin Fuad al-Musawa (Pimpinan Majelis Shalawat Rasulullah Saw Jakarta), Prof. K.H. Suharbillah (Ketua Pejabat Sementara Pagar Nusa Pusat) dan beberapa Kyai dan ulama yang berkumpul di rumah kediaman Gus Maksum.Setelah semua undangan berkumpul, acara haul dibuka dengan bacaan basmalah, lalu dilanjutkan dengan acara-acara seremonial seperti pembacaan ayat-ayat suci al-Quran dan sambutan dari keluarga almarhum dan juga tahlilan untuk mendoakan arwah Gus Maksum. Tak hanya itu, Gus Zainal Abidin selaku Sahibul hajat sengaja mendatangkan penceramah dari Jakarta, yakni Habib Munzir bin Fuad al-Musawa. Dalam ceramahnya, Habib asal ibu kota itu mengingatkan kembali perjuangan Gus Maksum semasa hidupnya. Seperti Keikhlasan yang selalu menyertai sikap Gus Maksum dalam membantu sesama umat manusia, dan demi negara khususnya. Juga sosok Kharisma yang dimiliki Gus Maksum, sehingga banyak orang ingin menjadi santrinya. Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa Gus Maksum adalah Waliyullah yang diberikan banyak ilmu kejadugan dan ketakwaan yang tinggi. Dalam waktu beberapa jam, kemudian acara dilanjutkan oleh hiburan berupa musik shalawat yang sengaja didatangkan dari Ibu Kota Jakarta, yakni kelompok Shalawat Majelis Rasulullah Saw pimpinan Habib Munzir bin Fuad al-Musawa. Karena menurut Gus Abidin panggilan Gus Zainal Abidin, kelompok Shalawat ini ada kesamaan kultur dengan warga NU khususnya Gus Maksum.Untuk menyudahi serangkaian acara yang dilaksanakan dalam haul ketiga Gus Maksum, pihak panitia memberikan suguhan kepada para undangan berupa 1000 nampan yang berisi nasi kuning dan lauk pauk ala pesantren. Nasi kuning dibagikan kepada undangan dan disantap secara berkelompok-seperti kebiasaan para santri ketika makan bersama-dalam tiap kelompok terdapat lebih dari tiga orang. Mereka ramai-ramai menyantap nasi kuning dengan penuh kesederhanaan. Gus Abidin mengatakan, “kebiasaan menyantap nasi kuning dinampan dengan cara bergerombol, menunjukkan akan kesederhanaan Gus Maksum semasa hidupnya, dan tidak lebih dari itu,” ujarnya. Setelah acara makan-makan selesai, pihak panitia menyudahi acara dengan pertunjukan tarung bebas yang dipertontonkan oleh para anggota perguruan Pagar Nusa dari berbagai wilayah. Warisan Gus MaksumPagar nusa adalah kelompok seni bela diri yang didirikan oleh Gus Maksum di pondok pesantren Lirboyo Kediri, dibawah naungan Nahdatul Ulama dengan mewadahi beberapa pencak silat di bebargai daerah di Indonesia. Pagar Nusa kini sudah dikenal banyak orang dengan anggotanya yang mencapai puluhan ribu orang, khususnya warga NU. Berkat jasa-jasa Gus Maksum selaku pendiri dan juga ketua umum yang disandang sampai akhir hayatnya. Maka tak ayal jika pagar nusa diindetikkan dengan Gus Maksum sebagai ikon kelompok pencak silat milik NU itu. Untuk melestarikan seni bela diri ini, Gus Maksum selalu mengadakan pertunjukan berupa tarung bebas, yakni pertarungan antara dua pendekar pagar nusa yang saling berduel satu lawan satu dengan tangan kosong. Meski ditinggal sang maestro, kini pagar Nusa selalu melestarikan tradisi tarung bebas itu. Hal ini bisa dilihat ketika acara haul Gus Maksum ke tiga di Lirboyo Kediri Minggu (6/8) yang lalu. Pertunjukan tarung bebas ini pun mendapat antusias dari para undangan dan santri yang hadir. Mereka bersorak-sorai sambil sesekali bertepuk tangan, ketika para pendekar–sebutan bagi anggota pagar nusa-saling menjatuhkan, bahkan tak jarang di antara para pendekar harus berdarah-darah dan patah tulang seperti yang terjadi pada haul ketiga Gus maksum beberapa hari lalu. Dengan diiringi tabuhan hadrah dan shalawat nabi, acara tarung bebas pun semakin terasa hikmatnya. Kini pagar nusa telah kehilangan ikonnya yang selama ini dijadikan panutan dan tempat bersandar. Akankah sosok Gus Maksum tergantikan dengan generasi selanjutnya ?. Makna HaulGus Maksum dikenal sebagai sosok yang jujur dan punya rasa keikhlasan tinggi. Ciri khasnya, Gus yang identik dengan rambut panjang itu, mempunyai banyak ilmu kejadugan. Konon, rambutnya bisa berubah menjadi api dan tak bisa dipotong, sehingga dikenal si rambut api.Kini Gus Maksum hanya tinggal kenangan dan petuah-petuahnya yang sering disampaikan pada keluarganya, yakni Gus Abidin salah satu keponakan yang dianggap sebagai penerus perjuangan Gus Maksum. Ketika sedang menghadapi beberapa wartawan, termasuk Posmo, Gus Abidin begitu bersahaja dengan sikap ketawaduan dan kata-katanya yang lembut, kemudian Gus yang masih muda ini menjelaskan maksud dari pelaksanaan Haul Ke tiga Gus Maksum. Bahwa peringatan ini semata-mata untuk mengenang perjuangan Gus Maksum semasa hidup, dan melestarikan rasa kejamaiyahan yang selalu didengungkan oleh Gus Maksum pada santrinya.Selain itu, juga menumbuhkan sikap sportifitas seperti yang ditujukkan para pendekar pagar nusa dalam tarung bebas. Karena dengan tradisi seperti ini, akan menumbuhkan sikap percaya diri bagi setiap orang, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.

KH.MAKSUM JAUHARI (GUS MAKSUM SANG PENDEKAR)

Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan dunia persilatan, tentu kita tidak asing lagi dengan Nama “PAGAR NUSA” yaitu ikatan pencak silat Nahdlatul ulama yang dididirikan pada tanggal 3 januari 1986 di pondok pesantren Lirboyo oleh para kyai-kyia NU dan sekaligus mengukuhkan Gus Ma’sum sebagai ketuanya.
kh, Maksum jauhari
Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan .
KH.MA’SUM JAUHARI (GUS MA’SUM SANG PENDEKAR)
Sebagai seorang kiai, Gus Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Gus Maksum memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.
Dikalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna. Rambutnya tak mempan dipotong (konon hanya ibundanya yang bisa mencukur rambut Gus Maksum), mulutnya bisa menyemburkan api, punya kekuatan tenaga dalam luar biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin, kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya. Di setiap medan laga (dalam dunia persilatan juga dikenal istilah sabung) tak ada yang mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para pendekar aliran hitam gelagapan. Kharisma Gus Maksum cukup untuk membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui Pagar Nusa.
Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI Gus Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar ya pendekar! Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.

Sabtu, 22 Oktober 2011

al habaib

mulai saat ini, ipsnu-pagarnusa.co.cc akan meluncurkan laman baru

Kamis, 26 Mei 2011

Sabtu, 30 April 2011

prasetya pagar nusa




 








 
 

PRASETYA IPS NU PAGAR NUSA 
Bismillahirrohmaanirrohiim 
Asyhadu alla ilaaha illalloh wa asyhadu anna muhammadarrosuululloh 
kami pesilat Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama' Sanggung : 
1. Bertakwa Kepada Alloh Swt
2. Berbakti Kepada Nusa Dan Bangsa
3. Menjunjung Tinggi Persatuan Dan Kesatuan
4. Mempertahankan Kebenaran Dan Mencegah Kemungkaran
5. Mempertahankan Faham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Senin, 18 April 2011




Jujur, ihlas, sportif, berani mengabdi, teguh pendirian, dan elegan. Pangkat-pangkat inilah yang layak disandang para pendekar dari Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS-NU) Pagar Nusa.
Lagi pula para pendekar dunia persialatan ini tak terlalu butuh pangkat-pangkat basah di pemerintahan yang akhir-akhir ini ramai diperebutkan orang banyak. Para pendekarlah sebenarnya yang berada di barisan terdepan perjuangan mendapatkan ”kedaulatan” negeri ini sekalipun belakangan nama mereka tidak banyak mendapatkan tempat dalam catatan sejarah yang didominasi oleh para diplomat dan politisi.
Di tengah-tengah kerumunan ratusan pendekar berbaju, celana, dan kopyah atau julbab hitam kelam itu penulis menemukan semangat menggebu-gebu untuk memperbaiki kondisi Nusantara yang telah dikacaukan oleh ”para pendekar berwatak jahat.” IPS-NU Pagar Nusa mengadakan Kongres di Pesantren Ciganjur Jakarta asuhan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jum’at-Ahad (23-25 September 2005) lalu.
Menjelang pelaksanaan kongres saya sempat berbincang dengan Ketua Umum IPS-NU Pagar Nusa yang selanjutnya terpilih kembali. Dialah Prof. DR. KH. Suharbillah. Perbincagan berlangsung akrab dan sama sekali tanpa rasa takut meski saat itu penulis berhadapan dengan seorang pimpinan pendekar yang brewokan dan bertubuh besar kekar. Salah satu ucapan Kiai Suharbillah yang penting begini:
”Saya sempat mendapatkan telepon dari oknum yang mengatasnamakan pengurus wilayah Pagar Nusa. Dia mengaku menawarkan wilayahnya untuk memilih saya sebagai Ketua Umum Pagar Nusa Periode 2005-2010. Namun dia bertanya kompensasi apa yang hendak saya berikan kepada wilayah itu. Saya balik bertanya, apakah Pagar Nusa sekarang sudah seperti itu?!”
Ya. Memang dalam banyak hal paguyuban (jamaah) yang empunya kejelasan kekuatan ”fisik” dan massa menjadi bahan-bakar utama untuk menjadi alat politik, dan dengan begitu para pentolannya tergolong orang yang berpunya. Namun Pagar Nusa tidak termasuk dalam bahagian itu.
”Saya sempat menawarkan kepada para pengurus Pagar Nusa, apakah kongres ini model Ansor atau model NU. Kalau model Ansor para anggotanya di kasih sangu. Namun kalau model NU malah dimintai urunan. Ternyata warga Pagar Nusa Lebih memilih model NU,” kata Kiai Suharbillah. Dua idealtipe barusan seharusnya tidak ada, namun kadang menjadi problem ideologis yang pertama-tama harus diperbincangkan secara intern, diselesaikan sampai tuntas.
Para pengurus cabang IPS-NU Pagar Nusa berangkat ke Jakarta dari daerahnya masing-masing, Jawa dan luar Jawa, dengan biaya sendiri. Sedari awal Kiai Suharbillah berpesan, ”Kami pengurus pusat tidak menyediakan tiket. Tiketnya nanti di surga dan insyallah lebih mahal harganya.” Itupun para pengurus Pagar Nusa yang hadir dimintai iuran 100 sampai 300 ribu-an percabang; jumlah yang lumayan besar untuk kebanyakan warga Pagar Nusa.
Budaya Bangsa
Jika Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dan kalangan pesantren mengaku sebagai penjaga tradisi, maka Pagar Nusalah anak NU yang paling cinta dengan budayanya. Misalnya saja, jurus-jurus yang ada dalam Pagar Nusa tidak harus satu barisan namun disesuaikan dengan trend pencak di daerah masing-masing dan dinamai dengan nama daerahnya. Ada jurus Cimande, Kediri, Pasuruan, dan daerah lainnya. Pagar Nusa tidak terlalu gemar mengimpor jurus-jurus silat dari Asing apalagi sampai menamai jurus silatnya dengan istilah asing yang apalagi ngetrend.
”Sama dengan pesantren yang dulu-dulu itu. Namanya selalu identik dengan nama daerahnya. Ada Pesantren Lirboyo, Tebuireng, Langitan, dan seterusnya. Inilah pesantren yang asli, bukan pesantren yang belakangan dinamai dengan memakai nama dari bahasa Arab,” kata Kiai Suharbillah.
Tema yang diusung dalam kongres Pagar Nusa kali ini adalah ”Berjuang Menegakkan Moralitas dan Budaya Bangsa.” Pagar Nusa bertekat mengisi ruangnya sendiri sekalipun ruangnya yang lama dan klasik dan tak harus sama dengan yang lain. ”Kami akan menngalakkan gerakan ekonomi di seluruh basis NU dengan cara mengampanyekan kembali semboyan cinta terhadap produk sendiri, terutama produk dari warga Nahdliyyin, dan agar kembali ke model perekonomian lama yang merakyat yakni model koprasi,” kata Kiai Suharbillah.
Para pendekar IPS-NU Pagar Nusa tidak hendak ambisius ingin menyelesaikan problem Nusantara yang semakin edan ini secara cepat dan revolusioner, namun secara pasti mengambil perannya sendiri. ”Dalam soal kenaikan BBM kami tidak ingin memihak sana-sini. Kami hanya bertugas agar konflik yang terjadi akibat kenaikan BBM tidak semakin parah,” kata Kiai Suharbillah. Semoga bisa.
(a khoirul anam)
APA ITU PAGAR NUSA ?
Nama lengkap organisasi ini adalah Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama’ Pagar Nusa disingkat IPSNU Pagar Nusa. Sedangkan Pagar Nusa sendiri merupakan akronim dari Pagar NU dan Bangsa.
IPSNU Pagar Nusa adalah satu – satunya wadah yang sah bagi organisasi pancak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama’ berdasarkan keputusan Muktamar.
Organisasi ini berstatus lembaga milik Nahdlatul Ulama’ yang penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya sama sebagaimana lembaga – lembaga NU lainnya.
Status resmi kelembagaan inilah yang menjadikan Pagar Nusa wajib dilestarikan dan dikembangkan oleh seluruh warga NU dengan mengecualikan pencak silat atau beladiri lainnya.
Segala kegiatan yang berhubungan dengan pencak silat dan beladiri dengan segenap aspeknya dari fisik sampai mental, dari pendidikan sampai sistem pengamanan dan lain – lain merupakan bidang garapan bagi lembaga ini.
VISI DAN MISI
Pagar Nusa ber-Aqidah ala Ahlussunnah wal Jama’ah dengan asas organisasi Pancasila. Pagar Nusa mengusahakan :
Berlakunya Ajaran Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah-tengah kehidupan negar kesatuan Repubil Indonesia yang ber-Pancasila.
Pelestarian, pembinaan, dan pengembangan pencak silat baik seni, beladiri, mental spiritual, maupun olahraga / kesehatan khususnya di lingkungan NU maupun di lingkungan warga bangsa lain pada umumnya.
ANGGOTA
Keanggotaan diatur dalam Peraturan Dasar dengan kriteria mudah yaitu warga Nahdlatul Ulama’ :
Mulai kanak – kanak sampai sesepuh ( batasan usia )
Dari yang belum mengenal pencak silat sampai yang mahir ( batasan kemampuan )
Sistem penjenjangan anggota dll, disesuaikan dengan kemampuan, usia, dan kebutuhan
MATERI PENCAK SILAT
Materi Pencak Silat Pagar Nusa Bakudi susun oleh tim yang terdiri dari dewan dan sumber lain dari berbagai aliran asli dari seluruh Indonesia seperti Cimande, Cikaret, Cikampek, Cikalong, Minang, Mandar, Mataram, dll. secara sistematis dengan metode modern.
Penyusunan jurus baku, baik fisik maupun non fisik dilakukan secara bertahap, memakan waktu bertahun – tahun dan sampai kini masih dilakukan penggalian – penggalian untuk paket selanjutnya.
Materi baku telah dilengkapi Buku Panduan bergambar, Kaset, dan VCD, dapat dibeli di bagian perlengkapan pusat.
FISIK BAKU
Gerak Dasar
Paket Kanak – kanak ( setingkat TK )
Paket I A & B ( setingkat SD )
Paket II A & B ( setingkat SMP )
Paket III A & B ( setingkat SMU )
Paket Beladiri ( setingkat perguruan tinggi )
Pencapaian jurus fisik baku menjadi tolak ukur tingkatan sebagai jenjang latihan. Warna Dasar Badge pada sabuk tingkatan menyesuaikan dengan penjenjangan tersebut.
Pendalaman = Seni Festival, Lomba, dll.
= Beladiri Terapan, Keamanan, dll.
= Olahraga Pertandingan, Senam Massal, dll.
= Kesehatan Pijat, Pernafasan, Obat, dll.
= Dan Lain – Lain.
NON FISIK BAKU
Ijazah
Jurus Asma’ul Husna
Jurus Taqorrub
Pendalaman = Pengisian Badan Langsung / Instan
Pengisian Bertahap Sesuai Jurus
Pengisian Barang
Pengobatan Non Fisik
Atraksi
Do’a
dll.
MANFAAT
Bergabung dengan Pagar Nusa bermanfaat, baik sosio kultural, edukatif maupun personal.
PERANGKAT LPS NU PAGAR NUSA
Disamping Struktur kepengurusan, Pagar Nusa memiliki perangkat organisasi yang dibentuk hanya ditingkat pusat sbb :
DEWAN BESAR GURU KHOS
Yaitu Ulama – Ulama Sepuh yang sangat mumpuni baik lahir maupun batin yang menjadi rujukan terakhir bagi keputusan – keputusan penting dan merupakan back up utama LPSNU
Dewan Besar Guru Khos antara lain :